Stop! Ucapkan Doktrin Kebencian Pada Anak

oleh
ISKNEWS.COM

Kudus, ISKNEWS.COM – “Jangan pernah menggunakan kalimat yang mengandung unsur kebencian dan kekerasan kepada sesuatu, untuk melarang dan atau tidak memenuhi keinginan anak, hal itu akan menjadi semacam doktrin bagi anak agar membenci dan berlaku kasar kepada sesuatu itu pula,” kalimat tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Ipda Subkhan, Kanit Kamneg, dalam acara Pengenalan Program Study Angkatan XV.

Bertempat di Akbid Mardi Rayahu Kudus, ratusan calon bidan yang menjadi peserta dalam acara ini, seolah diingatkan untuk mendidik anak dengan cara positif, Jum’at (31-08-2018).

Dia mencontohkan, ketika ada anak yang tidak mau makan. Kemudian orang tuanya menakutinya dengan kalimat “Nanti ibu panggilkan polisi lho,” ujarnya.

TRENDING :  Inilah Alasan Larangan Jual Sate di Lereng Gunung Muria

Dilanjutnya, kalimat yang diucapkan orang tua akan menjadi semacam doktrin bagi anak untuk menempatkan sosok polisi pada sesuatu yang dapat membuat takut atau menakutkan.

Contoh lain yang dipaparkannya, adalah kasus melarang anak untuk bermain. Misalnya, ketika seorang anak ingin bermain ke suatu tempat. Lalu orang tuanya melarangnya dengan kalimat “Jangan ke sana nak, karena disana miliknya si kafir,” katanya saat mencontohkan ungkapan larangan yang keral diberikan orang tua.

TRENDING :  Kepala Desa Diminta Optimalkan Dana Desa

Tanpa disadari orang tua, kalimat-kalimat seperti itu akan terus membekas dalam pikiran dan dibawa anak hingga dewasa. Dijelaskannya, kalimat-kalimat semacam itu akan menjadi doktrin penolakan terhadap sesuatu. Dalam konteks ini merujuk pada kata si kafir.

“Unsur kebencian dalam kalimat tersebut akan melekat dan diimplikasikan dengan bentuk penolakan pada sesuatu. Karena masih dinilai sebagai bagian dari atau milik si kafir. Untuk itu, orang tua harus hati-hati dalam memilih kalimat untuk anak. Sebab kalimat yang kalian ucapkan bisa menjadi doktrin radikal dari kita kepada anak kita tanpa kita sadari,” imbuhnya.

TRENDING :  Tingkatkan Kompetensi SDM, Disperindag Jateng Gelar Workshop Standart Kompetensi Kerja Mebel

Menurutnya, anak ibarat sebuah kertas putih yang siap digunakan sebagai media menulis ilmu kehidupan. “Jika kita salah mengisi dengan tulisan yang mengandung unsur kebencian dan kekerasan, makan kelak dikemudian hari kita akan jauh dari rasa nyaman, damai dan tentram.” pesanya. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :