Kudus, isknews.com – Gedung Taman Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB) Ruang Sensorik resmi dibuka di Desa Prambatan Lor RT 3 RW 3, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Sabtu (17/1/2026).
Peresmian gedung TPA dan KB Ruang Sensorik dilakukan langsung oleh Plt Kabid PAUD Dikmas Anggun Nugroho beserta tamu undangan, Ia memberikan apresiasi atas berdirinya lembaga pendidikan anak usia dini tersebut dan berharap kehadiran Ruang Sensorik dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak di Kabupaten Kudus.
Menurut Anggun Nugroho, Ruang Sensorik memiliki peran penting dalam mendukung masa emas pertumbuhan anak atau golden age, terutama dalam penguatan kemampuan motorik, sensorik, kreativitas, serta pembentukan karakter sejak usia dini. Ia menilai pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada stimulasi aktif sangat relevan dengan kebutuhan anak di era sekarang.
Anggun Nugroho juga berharap Ruang Sensorik dapat menjadi inspirasi bagi lembaga PAUD lainnya untuk terus berinovasi dalam metode pembelajaran, sekaligus menjadi mitra pemerintah daerah dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Sementara itu, Pendiri Ruang Sensorik, Rischa Nadia Cantika Wibisono, mengatakan lembaga yang dipimpinnya tergolong sekolah baru karena baru berjalan selama tujuh bulan. Pada awal berdiri, kegiatan belajar dilakukan di sebuah garasi mobil kecil di wilayah Krandon.
“Dulu kami benar-benar mulai dari nol, dari garasi kecil. Kami menyebarkan brosur ke tetangga hingga ke CFD, berharap ada orang tua yang percaya bahwa ada sekolah yang peduli dengan perkembangan sensorik dan motorik anak,” ungkap Rischa.
Ia menjelaskan, Ruang Sensorik lahir dari kegelisahan pribadi melihat banyak orang tua yang terlalu cepat menuntut anak usia dini untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Padahal menurutnya, setiap anak memiliki tahapan tumbuh kembang yang berbeda.
“Fokus kami adalah menumbuhkan anak sesuai fitrahnya. Anak-anak perlu stimulasi sensorik dan motorik yang matang terlebih dahulu. Alhamdulillah, di kota ini kami menjadi satu-satunya sekolah yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai inti pembelajaran,” jelasnya.
Berbagai aktivitas fisik dan sensorik dilakukan setiap hari, seperti melompat, memanjat, menari, bermain pasir, air, pom-pom, serta kegiatan eksploratif lainnya. Selain itu, anak-anak juga diajak berproduksi dan berkreasi sehingga imajinasi serta kreativitas mereka terus terasah.
Tak hanya itu, kurikulum Ruang Sensorik juga mengadopsi pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Anak-anak dilatih membuat benda sederhana yang bermanfaat, seperti kursi atau gelas, dengan memanfaatkan bahan di sekitar seperti kardus, eva foam, dan kayu.
“Harapannya, anak terbiasa berpikir kreatif dan mampu menyelesaikan masalah sejak dini,” imbuh Rischa.
Dari sisi pendidikan karakter, pembelajaran tetap mengacu pada PAUD pada umumnya, meliputi pembiasaan adab, pengenalan kepada Allah SWT, serta pengenalan lingkungan sekitar. Namun keunggulan utamanya tetap pada penguatan motorik dan sensorik.
Ruang Sensorik juga memperhatikan aspek kesehatan dan gizi anak. Setiap hari anak dibiasakan minum susu dua kotak, konsumsi vitamin D, serta makan telur. Seluruh kebutuhan makanan disediakan melalui katering sekolah yang dipastikan sehat dan bergizi.
Pada awal pembukaan, sekolah hanya memiliki dua murid tetap bulanan. Namun dalam waktu singkat, siswa mingguan yang awalnya hanya mencoba akhirnya beralih menjadi siswa bulanan karena kepercayaan orang tua terhadap sistem pembelajaran yang diterapkan.
Untuk meningkatkan rasa aman, pihak sekolah memberikan akses CCTV kepada orang tua di area utama pembelajaran, seperti saat berdoa, senam, mengaji, serta kegiatan motorik dan sensorik. Sementara untuk ruang tidur dan toilet training tidak disediakan akses CCTV demi menjaga privasi anak.
“Dengan CCTV, orang tua bisa melihat langsung aktivitas anak. Justru dari situ kepercayaan tumbuh,” katanya.
Ruang Sensorik mulai membuka layanan saat liburan sekolah pada 16 Juni 2025. Awalnya beroperasi sebagai daycare dan preschool, sebelum akhirnya berkembang menjadi sekolah secara penuh hingga saat ini.
Kini jumlah peserta didik mencapai 38 anak, terdiri dari tiga bayi di kelas baby, sekitar 18 anak baby walker, dan sisanya merupakan siswa KB usia 2 hingga 3 tahun. TPA terbagi dalam dua kelas, sementara KB digabung dalam satu sistem pembelajaran.
Rischa menambahkan, pembangunan gedung baru dilakukan karena lokasi sebelumnya sudah tidak memadai dan kapasitas siswa terus meningkat. Sekolah juga menerapkan sistem kuota untuk menjaga kualitas pembelajaran.
“Di tempat lama sudah penuh dan kurang layak. Anak-anak butuh ruang lebih luas untuk bergerak. Di sini kami ingin memberi lingkungan yang lebih sehat, bebas asap, dan lebih nyaman,” jelasnya.
Ke depan, kapasitas tiap kelas dibatasi, yakni maksimal 15 anak untuk KB kecil, 15 anak KB besar, dan 10 anak untuk TPA. Saat ini, KB besar telah terisi penuh sejak Desember, sementara KB kecil dan TPA masih membuka pendaftaran terbatas.
“Semoga orang tua bisa melihat keseriusan kami dalam mendampingi tumbuh kembang anak, agar mereka bisa bernapas lebih lega, berlari lebih luas, dan berkembang dengan optimal,” pungkasnya. (AS/YM)











