Budidaya Rumput Laut Karimunjawa Belum Optimal

oleh

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Dengan luas mencapai 7.100 hektar yang meliputi pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang, dan Nyamuk, baru 25 persen yang termanfaatkan untuk budidaya rumput laut. Padahal 80 persen dari luas tersebut sebenarnya layak dijadikan sebagai lokasi pengembangan budidaya rumput laut. Dalam monitoring yang dilakukan oleh DPRD Jepara bersama dinas terkait yang baru-baru ini, menemukan sejumlah fakta bahwa budidaya rumput laut di Karimunjawa belum optimal.

Menurut Ketua Komisi D DPRD Jepara Agus Sutisna, salah satu yang menjadi penyebab belum optimalnya budidaya rumput laut adalah belum adanya penerapan sentralisasi kawasan secara terintegrasi (sistem kluster) pada rumput laut merupakan mata pencaharian sebagian besar penduduk Karimunjawa.

“Penerapan sistem kluster akan memudahkan pemetaan wilayah sehingga kebijakan yang dihasilkan akan lebih fokus untuk mendukung potensi daerah tersebut. Misalnya pada wilayah yang telah ditetapkan sebagai wilayah budidaya rumput laut maka kebijakan yang dibuat akan berfokus untuk mengembangkan budidaya rumput laut,” katanya.

TRENDING :  Bonus Demografi di Jepara, Didukung Generasi Produktif yang Berkualitas
TRENDING :  Hadapi Liga Samsat, PSTI Jepara Berangkatkan 25 Atlet

Di Karimunjawa, setidaknya ada 380 pembudidaya yang tersebar di tiga desa yaitu Desa Karimunjawa, Pulau Nyamuk dan Pulau Parang. Pada puncak musim panen, mereka mampu produksi 60-100 ton kering/bulan dengan harga Rp. 7.500 di tingkat pembudidaya. Hasil produksi ini kemudian diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai jualnya pun masih rendah. Pada tahun 2009, nilai jual rumput laut karimunjawa mencapai 3,25 milyar dengan total produksi 360 ton. Nilai tersebut masih mampu di usahakan meningkat asalkan dilakukan pengembangan dan pembinaan terhadap para pelaku budidaya.

TRENDING :  MSTP Undip Bangun Generasi Technopreneur

Selain belum adanya sistem kluster ketidak optimalan budidaya rumput laut juga disebabkan tidak tertatanya kelembagaan penunjang maupun pola rantai distribusi pasar Sebagai langkah awal mengatasi permasalahan tersebut maka tindakan pertama yang dilakukan pemerintah adalah melakukan kajian terhadap indikator pendukung pola pengembangan, untuk kemudian dilakukan pemetaan terhadap unit-unit usaha pendukung budidaya rumput laut yang berpotensi di kembangkan di Karimunjawa. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :