Diduga Ada Perundungan di SMP Kudus, Guru Sebut Antar Siswa Sudah Berdamai

oleh -311 Dilihat
Ilustrasi, siswa murung korban perundungan (YM)

Kudus, isknews.com – Peristiwa perundungan diduga terjadi di Kudus, hal itu menimpa R yang merupakan salah seorang siswa kelas XI salah satu SMP di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus diduga menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh empat orang teman sekelasnya.

Kejadian perundungan yang terjadi pada Jumat, 25 Agustus 2023 ini, membuat salah seorang siswa yang menjadi korban harus dilarikan ke rumah sakit, setelah diduga dikeroyok oleh empat orang temannya saat di dalam kelas.

HB orangtua korban saat menghubungi media ini mengaku tak terima atas perlakuan keempat teman sekelas yang telah melakukan perundungan kepada anaknya. Hingga, anaknya sempat dirawat di rumah sakit.

Bahkan, HB mengungkapkan bahwa belum ada itikad yang jelas untuk penyelesaian kasus tersebut. Padahal, Ia hanya menuntut keadilan untuk anaknya yang telah menjadi korban perundungan di sekolah.

“Sekolah kok membisu tidak ada tindakan. Hakekat koyo ngono ki rak gathuk (sebenarnya seperti itu tidak pas),” ucapnya melalui pesan Whatsapp, Kamis, 5 Oktober 2023.

HB mengakui bahwa pihak sekolah sempat memfasilitasi mediasi antara dirinya dan orang tua siswa yang melakukan perundungan. Namun, hingga saat ini, Ia merasa belum mendapatkan keadilan yang diharapkan.

“Itu sudah ada mediasi dari pihak sekolah, kami dipertemukan, kami sudah ada kesepakatan untuk membantu (biaya berobat). Tapi sampai saat ini belum ada titik terang,” tuturnya.

Sementara itu, pihak sekolah saat dikonfirmasi, Mansur, perwakilan sekolah membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun pihaknya menampik jika korban itu dikeroyok oleh sejumlah siswa.

Ia menjelaskan, kejadian tersebut berawal saat sejumlah siswa tengah lempar-lemparan lumut yang terjadi diluar kelas, kemudian terjadi sedikit gesekan namun sudah terselesaikan.

Setelah itu, insiden terjadi lagi di dalam kelas, saat salah seorang siswa meminjam buku catatan kepada korban, namun tidak diperbolehkan.

”Nah setelah itu terjadi pemukulan. Kalau di keroyok itu tidak, kalau keroyok itu satu orang dipukuli rame-rame. Tapi itu tidak. Benar ada pemukulan, teman yang lain itu melerai. Jadi itu dua masalah yang beda, masalah lumut, dan masalah pinjam buku,”katanya, Kamis, 5 Oktober 2023.

Menurutnya, setelah kejadian tersebut pihak sekolah memanggil yang bersangkutan ke Bimbingan Konseling. Sedangkan korban, diantar ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus untuk berobat.

”Itu siswa juga sudah saling jabat tangan, maaf-maafan. Kami dari sekolah mencoba membantu. Kalau di rumah sakit dua hari, setelah itu dokter menyatakan sudah sehat rawat jalan diberi obat,” ucapnya.

Ia juga menyebut, sekolah juga sudah memanggil sejumlah orang tua siswa untuk dilakukan mediasi. Kala itu, memang ada kesepakatan untuk membantu pengobatan, dengan waktu yang sudah disepakati.

Namun, karena memang faktor latarbelakang masing-masing orang tua siswa yang kurang berada, akhirnya hal tersebut sulit ditemukan kesepakatan antara keduanya.

”Kami sendiri dari sekolah juga bingung, kami sudah melakukan upaya mediasi sampai dua kali,” ujarnya.

Saat ini, sambung dia, siswa yang menjadi korban perundungan tersebut sudah bersekolah seperti biasa. Siswa yang awalnya sempat terlibat permasalahan ini, juga telah berbaur seperti biasanya.

”Jadi sekitar sepekan itu siswanya sudah masuk. Dan sudah bersekolah seperti biasa sampai saat ini,” ucapnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.