Kudus, isknews.com – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Purwosari, Kabupaten Kudus, menghadapi kendala serius dalam kapasitas ruang belajar. Dengan jumlah siswa sekira 230 anak, kondisi ruang kelas yang terbatas membuat proses pembelajaran dan pengembangan keterampilan belum berjalan maksimal.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SLB Negeri Purwosari, Muharrom Panji Prasetyo, menjelaskan bahwa saat ini satu ruang kelas bahkan digunakan untuk dua hingga tiga rombongan belajar (rombel). Hal itu membuat suasana belajar kurang kondusif, terutama bagi siswa dengan kebutuhan khusus yang memerlukan perhatian dan ruang gerak lebih luas.
“Normalnya satu kelas itu lima sampai enam anak, tapi sekarang ada yang sampai lima belas siswa dalam satu ruangan. Bahkan satu ruangan digunakan untuk dua kelas. Kondisi ini jelas tidak ideal bagi perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus,” jelasnya, Senin (20/10/2025).
Panji menambahkan, keterbatasan ruang juga berdampak pada kegiatan pembelajaran keterampilan, khususnya bagi jenjang SMP dan SMA luar biasa. Hingga kini, sekolah belum memiliki fasilitas memadai untuk mengembangkan keterampilan vokasional yang seharusnya menjadi bekal penting bagi kemandirian siswa.
“Kami tidak punya tempat untuk pelatihan keterampilan. Padahal itu sangat penting bagi anak-anak agar mereka bisa mandiri setelah lulus. Karena itu, kami berharap ada solusi dari pemerintah daerah,” imbuhnya.
Pihak sekolah mengusulkan agar tanah kosong di sebelah Hutan Kota Kudus dapat dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas SLB Negeri Purwosari. Menurutnya, lahan tersebut strategis dan bisa dihibahkan kepada sekolah negeri, mengingat SLB merupakan lembaga pendidikan milik pemerintah.
“Tanah di sebelah hutan kota itu kan kosong. Kalau bisa dihibahkan untuk pengembangan SLB, tentu sangat membantu. Kami ingin lahan itu bisa digunakan untuk ruang keterampilan, terapi, dan kegiatan anak-anak,” harap Panji.
Lebih lanjut, Panji menjelaskan bahwa SLB Negeri Purwosari melayani berbagai jenis ketunaan, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita ringan hingga berat. Dengan kondisi siswa yang beragam, kebutuhan ruang belajar pun semakin meningkat.
“Di sini ada semua jenis ketunaan. Jadi kebutuhan ruang itu sangat beragam, ada yang butuh ruangan tenang, ada yang butuh alat bantu, ada juga yang perlu pendampingan intensif. Tapi ruangnya belum mendukung,” terangnya.
Terkait penerimaan siswa baru, pihak sekolah menerapkan seleksi melalui tes dan wawancara keluarga untuk menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan anak. Jika kapasitas penuh, pihak sekolah biasanya menyarankan agar calon siswa terlebih dahulu menempuh pendidikan di sekolah inklusi sebelum akhirnya masuk ke SLB Negeri Purwosari.
“Kami lihat dulu kesiapan anak dan kondisi keluarganya. Kalau belum memungkinkan, bisa diarahkan dulu ke sekolah inklusi yang lebih siap menangani tahap awal,” kata Panji.
Ia berharap, ke depan pemerintah daerah bisa membantu penambahan ruang kelas maupun lahan baru agar SLB Negeri Purwosari dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih optimal bagi seluruh siswa berkebutuhan khusus di Kabupaten Kudus. (AS/YM)







