14.143 Jiwa Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Kudus

oleh -518 Dilihat
Suasana banjir yang melanda Desa jojo, Kecamatan Mejobo, Kudus dan sempat masuk ke pemukiman warga (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Bencana hidrometeorologi basah berupa banjir, limpasan sungai, tanah longsor, dan cuaca ekstrem melanda Kabupaten Kudus akibat hujan deras berintensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, total warga terdampak mencapai 4.668 kepala keluarga atau 14.143 jiwa.

Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, mengatakan hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Pegunungan Muria menyebabkan debit Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe meningkat secara signifikan hingga meluap ke permukiman warga. Kondisi tersebut diperparah dengan tanah yang menjadi labil akibat tingginya curah hujan sehingga memicu banjir, genangan, dan longsor di berbagai wilayah.

Banjir dan limpasan sungai tercatat terjadi di empat kecamatan, yakni Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae, dengan ketinggian air bervariasi antara 5 hingga 60 sentimeter. Di Kecamatan Mejobo, banjir melanda tujuh desa, yaitu Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno.

Desa Mejobo menjadi wilayah terdampak paling besar dengan 600 KK atau 1.741 jiwa, sekitar 425 rumah terdampak, serta air masuk ke rumah warga sebanyak 30 kepala keluarga, dengan ketinggian air mencapai 5 hingga 40 sentimeter. Selain itu, banjir juga merendam persawahan dengan luas mencapai 25 hektare.

Di Desa Jojo, banjir berdampak pada 325 KK atau 1.040 jiwa dengan sekitar 200 rumah terdampak dan ketinggian air antara 5 hingga 30 sentimeter. Sementara di Desa Golantepus, sebanyak 225 KK atau 701 jiwa terdampak, air masuk ke rumah 20 KK, dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter.

Desa Kesambi terdampak banjir dengan 40 KK atau 120 jiwa, ketinggian air 20 hingga 30 sentimeter, dan persawahan terdampak seluas 20,8 hektare. Genangan juga terjadi di Desa Temulus dengan 175 KK atau 520 jiwa terdampak, Desa Tenggeles dengan 70 KK atau 240 jiwa, serta Desa Hadiwarno yang merendam persawahan seluas 20 hektare.

Di Kecamatan Kota, limpasan Sungai Gelis menggenangi Desa Singocandi dengan 70 KK atau 261 jiwa terdampak. Air setinggi 20 hingga 40 sentimeter sempat masuk ke sekitar 70 rumah warga, bahkan sebagian warga mengungsi sementara sebelum kondisi berangsur surut dan warga kembali ke rumah masing-masing.

Sementara itu di Kecamatan Jekulo, banjir melanda Desa Hadipolo dengan dampak cukup besar terhadap 600 KK atau 1.870 jiwa, sekitar 200 rumah terdampak, serta ketinggian air mencapai 50 hingga 60 sentimeter.

Di Kecamatan Bae, banjir menggenangi Desa Ngembalrejo dengan 650 KK atau 1.961 jiwa terdampak, sekitar 500 rumah terdampak, serta air masuk ke rumah warga sebanyak 40 kepala keluarga, dengan ketinggian air 20 hingga 50 sentimeter.

Selain banjir, BPBD Kudus juga mencatat puluhan titik tanah longsor yang tersebar di Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae. Kecamatan Dawe menjadi wilayah dengan jumlah longsor terbanyak, di antaranya di Desa Japan dengan sekitar 24 titik longsor, Desa Kuwukan dengan sekitar 20 titik longsor yang berdampak pada enam rumah warga, Desa Ternadi dengan empat titik longsor yang mengenai dua rumah, Desa Kajar dengan enam titik longsor, serta Desa Colo dengan sembilan titik longsor.

Salah satu kejadian paling menonjol terjadi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, tepatnya di jalur menuju objek wisata religi Makam Sunan Muria. Longsor menyebabkan jembatan portal dan badan jalan ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter, hingga menyeret dua mobil ke sungai. Dalam kejadian tersebut, tiga orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, dan proses evakuasi kendaraan telah selesai dilakukan.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan Pemerintah Kabupaten Kudus bergerak cepat dengan mengerahkan seluruh perangkat daerah dan berkoordinasi lintas instansi dalam penanganan bencana. Ia menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama, serta meminta seluruh organisasi perangkat daerah untuk siaga dan responsif.

“Kami tidak ingin penanganan lambat. Semua OPD saya minta turun ke lapangan, berkoordinasi, dan memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi,” ujar Sam’ani Intakoris.

Pemerintah Kabupaten Kudus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah lereng Pegunungan Muria, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, mengingat status siaga darurat bencana masih berlaku hingga 31 Mei 2026.

“Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan warga terdampak bisa segera terpenuhi. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar Sam’ani Intakoris.

Ia menegaskan seluruh organisasi perangkat daerah diminta siaga dan responsif, khususnya dalam penanganan banjir dan tanah longsor yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

“Saya sudah instruksikan BPBD, Dinas PUPR, Dinsos, camat, dan kepala desa untuk terus berkoordinasi. Jangan menunggu laporan, tapi jemput bola ke lokasi terdampak,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus juga mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan lereng Pegunungan Muria, untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika muncul tanda-tanda bencana susulan.

“Kondisi cuaca masih fluktuatif. Warga diminta tidak memaksakan aktivitas di wilayah rawan dan mengikuti arahan petugas di lapangan,” pungkas Sam’ani Intakoris. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.