Gelar Simulasi Pemilu dan Uji Kecermatan Petugas, KPU Kudus Sisipkan Pemilih Ilegal

oleh -264 Dilihat
Suasana simulasi pemungutasn suara oleh KPU Kudus yang dilaksanakan di TPS 9 Desa Japan, Dawe, Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara dalam rangka menyukseskan Pemilu 2024 dengan melibatkan sejumlah unsur, mulai penyelenggara hingga pemilih serta saksi dari kontestan Pemilu yakni Parpol maupun Capres.

Meski hanya simulasi namun suasana pencoblosan dan penghitungan suara dalam kegiatan tersebut terasa mendekati suasana riil yang dimungkinkan akan berlangsung pada pelaksanaan Pemilu di tanggal 14 Februari besok.

Simulasi penghitungan suara oleh petugas KPPS (Foto: YM)

Koordinator Divisi Teknis Penyelenggara KPU Ahmad Kholil mengatakan, bahwa pelaksanaan simulasi pemungutan suara tersebut wajib.

“Hal itu untuk melihat semua kesiapan, baik penyelenggara pemilu, pengawas pemilu, pemilih, maupun peserta pemilu lainnya dalam rangka persiapan pada tanggal 14 Februari 2024,” ujarnya, Rabu (31/01/2024).

Koordinator Divisi Teknis Penyelenggara KPU Ahmad Kholil (Foto: YM)

Menurutnya, kegiatan simulasi pemungutan dan penghitungan suara Pemilu 2024 di TPS 9 Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus ini dipilih di sekitar lereng Gunung Muria yang merupakan tempat rawan terjadi bencana, khususnya tanah longsor.

Ahmad Kholil yang akrab disapa Allan menyampaikan, kegiatan simulasi ini diadakan untuk memastikan kesiapan dan kondusifitas saat Pemilu pada tanggal 14 Februari 2024 nanti berlangsung.

“Ada sebanyak 252 pemilih yang diundang. Dalam simulasi ini kami lakukan sama seperti apa yang seharusnya terjadi saat hari pencoblosan nanti berlangsung. Jika sebelumnya di wilayah kota, untuk simulasi kedua ini kami gelar di pegunungan sekalian ingin simulasi penggunaan Sirekap,” kata dia.

Ia menambahkan, simulasi ini digelar melibatkan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang baru dilantik dan pemilih riil di TPS 9 Desa Japan. Pihaknya juga mensimulasikan adanya pemilih tambahan.

“Tanpa sepengetahuan KPPS kami juga masukkan pemilih ilegal yang seharusnya tidak memilih di TPS 9. Alhamdulillah KPPS disini jeli dan bisa terdeteksi adanya pemilih ilegal,” katanya.

Kegiatan simulasi ini juga dilakukan untuk memberikan edukasi kepada petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) supaya mengetahui tugas-tugasnya saat Pemilu nanti. Termasuk bagi petugas Trantib (Ketentraman dan Ketertiban), pengawas hingga saksi-saksi.

“Jadi para petugas bisa mempelajari dengan praktek langsung untuk mengetahui prosesnya seperti apa,” imbuhnya.

Simulasi penghitungan suara (Foto: YM)

Selanjutnya, simulasi ini juga dilakukan untuk mengecek kekuatan sinyal di TPS tersebut. Mengingat, lokasi TPS ini berada di lereng Gunung Muria.

“Karena di dalam pemungutan dan penghitungan suara nanti akan menggunakan aplikasi Si Rekap, oleh karena itu pengecekan sinyal di TPS juga diperlukan,” jelasnya.

Kemudian, pihaknya juga mengecek terkait partisipasi masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi lima tahunan ini. Sehingga, dalam simulasi ini juga mengundang Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS tersebut.

Dari pantauan media ini di lokasi simulasi, proses penghitungan surat suara Pemilu serentak butuh waktu hingga dua jam untuk satu jenis surat suara. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.