Mahasiswa KKN UPGRIS Bantu Ide Pemasaran Digital Produk Lokal Getuk Demangan Kendal

oleh -233 Dilihat
Sejumlah mahasiswa KKN kelompok 119 Universitas PGRI Semarang, saat praktek membuat Getuk Demangan bersama ibu-ibu warga Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Sabtu 02/03/2024 (Foto: istimewa)

Kendal, isknews.com – Demi meningkatkan popularitas produksi lokal, sejumlah mahasiswa KKN kelompok 119 Universitas PGRI Semarang mempraktekkan pembuatan Getuk Demangan bersama ibu-ibu Desa Gondang. Upaya ini sekaligus dimaksudkan untuk membantu mendongkrak popularitas jajanan lokal berbahan dasar singkong tersebut melalui unggahan di sosial media mereka.

Seperti diketahui di Kabupaten Kendal memiliki sejumlah jajanan yang bisa menjadi oleh-oleh khas Kendal, termasuk yang satu ini terbuat dari singkong yang telah diolah menjadi getuk kemudian digoreng. Rasanya manis dan gurih.

Menurut Nur Istikhomah, koordinator kelompok KKN di desa tersebut, popularitas Getuk Demangan perlu lebih ditingkatkan sehingga diharapkan akan korelatif dengan peningkatkan pemasaran produk lokal desa tersebut.

“Sebelum melakukan praktik produksi kami telah memberikan arahan terhadap penjualan produk dan pemasaran secara digital. Selama ini pemasaran produk tersebut masih terbatas menggunakan media sosial WA dan Instagram,” kata Nur yang juga warga Gondang, Sabtu (02/03/2024).

Menurutnya, dikarenakan getuk tersebut harus dalam keadaan frozen saat dipasarkan agar dapat bertahan lama jika dalam keadaan frozen dapat bertahan selama kurang lebih 3 bulan, namun jika tidak dalam keadaan frozen gethuk tersebut hanya bertahan selama satu hari

Selama ini kendala dalam pemasaran adalah akibat tak bisa bertahan lamanya jenis penganan tersebut, sehingga produk ini perlu perlakuan tersendiri agar tetap awet dan layak untuk dikonsumsi.

“Getuk akan diproduksi apabila stok mulai menipis dan ada pesanan dari pihak luar. Hasil produksi tersebut ditindak lanjut dengan dimasukkan ke dalam kulkas pendingin agar lebih tahan lama,” terang dia saat praktik di Dusun Nambangan, Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.

Dengan kondisi tersebut menyebabkan pemasaran getuk terbatas. Pemasaran hanya dapat dilakukan sekitar desa dan tidak bisa di ekspor hingga luar daerah.

“Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Faktanya, masih belum ditemukan solusinya terkait ketahanan getuk tersebut,” ungkapnya.

Pembuatan getuk memiliki urutan tersendiri. Pertama, singkong dikukus. Kedua, singkong ditumbuk kemudian dicampur dengan kelapa parut dan gula. Ketiga, kiranya sudah cukup, adonan dipilah seratnya lalu diambil yang halus kemudian ditimbang sesuai ukuran.

“Selanjutnya, adonan dibentuk bulat dan di lapis dengan tepung terigu lalu tepung roti. Getuk siap dihidangkan,” terangnya.

Produksi getuk memiliki dua rasa. Rasa yang diproduksi yaitu cokelat dan original. Namun kerap kali penjualan ludes yang rasa original.

Produksi getuk dengan rasa original dengan bahan utama singkong. Selain itu, ciri khas getuk dapat dilihat dari bentuk dan bahan kelapa yang dicampur menjadi satu serta dibaluri dengan tepung roti.

“Singkong merupakan bahan yang mudah dijumpai dan melimpah. Namun, di desa ini sulit untuk bisa menanam singkong tersebut dikarenakan adanya hama tikus. Dengan demikian, bahan singkong beli ke pihak lain,” tuturnya.

Pernah dicoba dilakukan pemasaran getuk dengan menggunakan mika dengan ditempel stiker produsen.

“Awalnya, getuk di vacuum dengan maksud agar bisa tahan lama dan di pasarkan hingga keluar daerah. Namun ternyata getuk menempel ke kemasan sehingga tidak menarik untuk di konsumsi,” tandasnya.

Pengirim berita : Naufal Agung Rizkina, jurusan Informatika Fakultas Teknik dan Informatika angkatan 20/ YM

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.